Hidup dalam kenangan
By: Siti Hanifah F.
Kilasan itu datang lagi
Rasa itu hadir kembali
Senyumku timbul saat bertemu denganmu
Bahagiaku hadir saat bersamamu
Tak terasa waktu cepat berlalu
Membuatku lupa, bahwa dirimu bukan untukku
Pertengkaran memisahkan
Dalam jarak yang sangat jauh
Membuatku menyesal
Membuatku khawatir
Sampaiku dengar kabar duka
Perih menggunadang air mata
Ku tak dapat berkata
Sakitnya akibat luka
Kehilanganmu adalah kehancuran bagiku
Tapi siapa aku, bukan tuhan pemegang takdir
Bahkan ku tak bisa menyinyir,
Dirimu yang tak bisa lagi hadir
Waktu terus berjalan
Menggantikan hari bulan dan tahun
Aku yang masih belum menerima, terdiam beku membisu
“Ku harap ini hanya mimpi yang akan bangun esok”
Pagi yang indah, aku mendengar kicauan burung dari luar
Sosok pertama yang hadir, tak lepas akan bayang bayangmu
Wajah ramah berbingkai senyum
Tak bisa ku lupakan dengan mudah
Kenyataan bahwa kau tidak lagi bersamaku
Membuat hati ini kecewa dengan teramat sangat
Kini kau tak lagi disisiku
Kini...ingatanlah yang menjadi penyemangatku
Andai kamu tau,
Ketika hati menginginkan hadirmu
Ku hanya bisa menangis,
Mata sayu ini masih menangis,
Memeluk nama yang sudah tidak berwujud
Menyisakan potongan-potongan kecil dari kebahagiaan yang tergantikan kesedihan.
Apa disana juga sama?
Apa dirimu sedih melihatku seperti ini?
Lantas mengapa dirimu pergi?
Aku bukan tuhan yang punya kendali atas dirimu
Tapi bagaimanapun hati ini tetap menginginkanmu
Waktu masih terus berjalan
Menggantikan hari bulan dan tahun
Kini tinggal remahan rasa yang tersisa
Kamu benar, aku yang hidup harus tetap hidup
Aku yang punya kesempatan harus berjuang
Dirimu...memang sudah tiada
Namun sosokmu, hidup dalam kenangan.
Rasa itu hadir kembali
Senyumku timbul saat bertemu denganmu
Bahagiaku hadir saat bersamamu
Tak terasa waktu cepat berlalu
Membuatku lupa, bahwa dirimu bukan untukku
Pertengkaran memisahkan
Dalam jarak yang sangat jauh
Membuatku menyesal
Membuatku khawatir
Sampaiku dengar kabar duka
Perih menggunadang air mata
Ku tak dapat berkata
Sakitnya akibat luka
Kehilanganmu adalah kehancuran bagiku
Tapi siapa aku, bukan tuhan pemegang takdir
Bahkan ku tak bisa menyinyir,
Dirimu yang tak bisa lagi hadir
Waktu terus berjalan
Menggantikan hari bulan dan tahun
Aku yang masih belum menerima, terdiam beku membisu
“Ku harap ini hanya mimpi yang akan bangun esok”
Pagi yang indah, aku mendengar kicauan burung dari luar
Sosok pertama yang hadir, tak lepas akan bayang bayangmu
Wajah ramah berbingkai senyum
Tak bisa ku lupakan dengan mudah
Kenyataan bahwa kau tidak lagi bersamaku
Membuat hati ini kecewa dengan teramat sangat
Kini kau tak lagi disisiku
Kini...ingatanlah yang menjadi penyemangatku
Andai kamu tau,
Ketika hati menginginkan hadirmu
Ku hanya bisa menangis,
Mata sayu ini masih menangis,
Memeluk nama yang sudah tidak berwujud
Menyisakan potongan-potongan kecil dari kebahagiaan yang tergantikan kesedihan.
Apa disana juga sama?
Apa dirimu sedih melihatku seperti ini?
Lantas mengapa dirimu pergi?
Aku bukan tuhan yang punya kendali atas dirimu
Tapi bagaimanapun hati ini tetap menginginkanmu
Waktu masih terus berjalan
Menggantikan hari bulan dan tahun
Kini tinggal remahan rasa yang tersisa
Kamu benar, aku yang hidup harus tetap hidup
Aku yang punya kesempatan harus berjuang
Dirimu...memang sudah tiada
Namun sosokmu, hidup dalam kenangan.

0 komentar