The Hallway
https://www.flickr.com
Raka, Mia, Linda, Olivia dan Alan adalah lima sahabat yang sangat suka dengan yang namanya tantangan. Mereka semua kuliah di kampus yang sama dengan jurusan yang berbeda-beda. Selain itu, mereka juga youtuber yang mulai booming dengan postingan mereka baru-baru ini.
Nama mereka sudah tidak asing lagi di kalangan penyuka konten-konten horor yang disukai sebagian besar orang. Terkadang mereka juga membuat vlog dan menerima request di halaman komentar pada postingan mereka.
Suatu hari ada orang yang tidak dikenal menantang mereka untuk mendatangi lorong kampus yang terkenal sangat angker. Meskipun mereka sudah tau tentang desas desus ke angkeran lorong kampus. Tidak ada satu orangpun dari mereka yang tertarik dengan hal itu. Bukan karena tidak berani. Tapi karena kurang menantang.
Namun sepertinya orang asing itu sedikit memaksa mereka. Hingga ia terus memenuhi kolom komentar postingan yang mereka buat. Hal itu menbuat Linda agak penasaran dan membujuk ke-4 temannya untuk menerima tantangan itu. Ia memberi alasan yang cukup masuk akal. Hingga Raka, Mia dan Alan setuju. Namun Olvia menolak, karena ia merasakan sesuatu yang entah apa. Tapi hal itu membuatnya sedikit terganggu. Raka meyakinkan jika ini hanya tantangan biasa. Tantangan yang biasa mereka lewati. Bahkan lebih gampang dari tantangan sebelumnya. Setelah itu ia juga menyetujui tantangan itu.
Meskipun sebenarnya mereka penasaran pada orang yang merequest sampai harus memenuhi kolom komentar dan menyimpan gulungan kertas di meja Olivia. Namun akhirnya mereka menerima tantangan tersebut.
Setelah jam pelajaran usai mereka berkumpul di lapangan kampus sambil menunggu kampus kosong dan menunggu Mia yang harus pulang dulu menggantikan kakaknya yang malas. Sambil menunggu Mia, meraka mengecek kembali kamera masing-masing. Takutnya ada gangguan atau kamera menjadi blur. Tidak lama dari itu, Mia datang dengan dengan earphone yang terpasang di telingannya.
‘’Sorry...tadi mama nyuruh beliin cemilan dulu jadi lama’’. Ucapnya dengan santai. Alan melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, lalu mengajak meraka untuk mulai. Jam menunjukkan pukul 10 malam, mereka melewati aula untuk naik kelantai dua lalu menuruni tangga lantai dasar untuk sampai ke lorong yang terletak paling ujung di kampus.
info.darikorea.blogspot
‘’Itu sih kecil, tapi kok ini lebih mirip minta bantuan kita. Berat-berat nyiapin kamera, gak direkam juga. Buang-buang waktu. Udah balik aja yuk’’. Mia memperhatikan apa yang Olivia ucapkan meskipun ia tetap fokus dengan video gamenya.
‘’Tapi kita harus menghargai orang itu jugakan’’. Timpal Linda
‘’Apaan sih, nyaut aja’’. Tukas Mia yang menatapnya kesal
Linda yang tersinggung memilih diam dan menundukkan kepalanya. Raka yang merasa tidak enak pada Linda meminta maaf atas perkataan adiknya. Linda tersenyum simpul dan mengangguk. Mia semakin kesal saat kakaknya malah membela perempuan yang ia benci sejak lama. Ia hanya mencibir Linda dalam hati sambil menatapnya dengan sinis.
Mereka sampai didepan lorong. Lorong itu di jaga oleh pagar besi berkarat tinggi, di gembok dengan asal menambah kesan dan suasana yang berbeda. Linda menyentuh gembok itu. Lalu melepaskanya dengan ketakuttan. PRANG!!. Suara itu terdengar jelas bahkan menggema cukup lama di dalam lorong itu.
‘’Ada apa?’’. Olivia menyentuh kedua pundak Linda dengan tatapan khawatir.
‘’Tidak, tapi...aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi. Lebih baik kita-’’
‘’Ah, gitu aja lebai’’. Ejek Mia.
‘’Mia...’’. Olivia menoleh pada Mia agar ia berhenti mengceh.
‘’Iya deh-’’. Jawab Mia dengan malas.
Alan mencoba untuk membuka gembok itu. Diluar dugaan, gembok itu lebih gampang di buka karna sudah sangan berkarat. Satu persatu dari mereka masuk kelorong tersebut. Raka dan Alan memimpin didepan. Di susul oleh Linda dan Mia yang terus melangkah dengan mata yang tak mau lepas dari video gamenya. Olivia diam di tempat, matanya memandangi sekelilingnya.
Sepi. Tapi karena temannya sudah berjalan cukup jauh, iapun melangkah masuk meski penuh keraguan.
"Wah,gila ni lorong.Kotor banget".Ucap Raka
"Perasaan gak seberdebu ini deh lorongnya". Timpal Olivia yang berjalan paling belakang.
"Oliv,disini dingin banget yah...".Ucap Linda
"Yakan lo tau ini namanya lorong, udah malem,ya pasti dinginlah...gimanasih lo". Sindir Mia pada Linda
‘’Nih pake aja’’. Alan memberikan jaketnya pada Linda, hingga pipinya berwarna merah padam.
‘’Cuman jaket aja baper’’. Sindir Mia
‘’Udah Mia...’’. Ucap Olivia memenangkan Mia yang tak merespon.
‘’Masa di kasih jaket aja-’’
‘’Kamu gak suka yah-’’. Sela Linda yang menahan geram.
‘’Sudah, kalian berdua ribut terus kerjanya". Alan yang menahan sebal dari tadi akhirnya bersuara.
‘’Ya ya ya...terserah gak peduli’’. Mia menyusul dengan mulut yang masih mengomel.
Satu jam berlalu, mereka sungguh tak mengira jika lorong ini sangat panjang dan berbelok-belok. Merekapun sampai di ujung lorong. Tidak ada apa-apa. Semuanya kosong. Menyisakan dinding di hadapan. Namun Olivia dengan mata jelinya melihat keanehan pada dinding di hadapanya.
‘’Petunjuk apaan sih, gak ada apa-apa juga’’. Omel Mia
‘’Eh tunggu, ini apa-’’. Olivia menekan tombil kecil yang ia temukan. Lalu dinding itu bergeser menunjukkan apa yang ia sembunyikan. Mereka semua tercengang tak percaya dengan apa yang mereka saksikan sekarang.
‘’I-ini asli?’’.Tanya Mia tak percya
‘’Wah...ternyata ini lorong punya rasahasia juga yah. Andai aja tau dari dulu’’. Ucap Alan
‘’Gak nyangka-’’. Raka menggelengkan kepala.
Di hadapan mereka masih terdapat lorong panjang. Namun ada tangga yang menurun dan lorong ini lebih bersih dari lorong yang mereka injak sekarang. Namun pencahayaan sangat minim, membuat merek harus menggunakan senter untuk memperjelas apa yang mereka lihat.
"Eh, jadi gimana nih.Jadi langsung cari aja gitu tu anting?".Tanya Mia yang jadi bersemangat.
"Temen-temen...kayaknya lebih baik kita pulang aja,aku ngerasa ada firasat gak enak". Ucap Linda memelas
"Ah,bilang aja lo takut,mau kaburkan lo".Tukas Mia
"Udah...kalian apaan sih, jangan ribut ok". Ucap Olivia
"Udah lo berdua ributnya,heh?.Udah kita cari aja antingnya".Timpal Raka
"Eh Lan, lo bawa senterkan?, gue pinjem hp gue batrenya lemah" Alan mengeluarkan senter kecil dari tas ranselnya lalu memberikan satu senter miliknya pada Raka.
‘’Mia, butuh gak?’’. Alan menawarkan senter ang masih ia miliki pada mia.
‘’Gak, pake hp aja’’
‘’Ya sudah aku saja’’. Jawab Linda. ‘’Hpku juga lemah’’. Linda langsung mengambil senter yang Alan pegang. Namun Alan nampak tak senang karna bukan Mia yang mengambilnya.
‘’Gimana kalo sekalian ngevlog aja. Jadikan semua orang tau kalau lorong ini punya tempat rahasia. Iya gak?’’. Pinta Mia yang sudah tidak sabar untuk menelusuri lorong itu.
‘’Bener juga tuh’’. Jawab Raka.
Ring..ring..ring...Ponsel Olivia berdering, ada pesan masuk dari orang yang tadi mengiriminya pesan. ‘’Yaudah, ayo kita lihat apa saja yang tersembunyi dis-’’. Mia melangkah paling depan. Namun Olivia menahan mereka. ‘’Tunggu!, aku dapat pesan lagi’’. Semuanya menatap Olivia dengan heran.’’Ini lihat’’. Ia menunjukkan pesan yang tertera di layar ponselnya. ‘’Mana sini’’. Mia mengambil ponsel Olivia kemudian membacanya.
‘’Paan sih ni orang!, gak jelas banget. Emang kita itu pesuruh dia apa?, enak banget ngatur ngatur’’. Alan mengambil ponsel itu. Ia membacanya lalu mengembalikan ponsel itu pada Olivia.
‘’Orang itu bilang, kita gal boleh ngerekam apapun disini. Kalau kita gotot, akan ada sesuatu yang terjadi. Tapi dia tetap meminta kita untuk mencari anting itu. Dia bilang, anting itu sangat berarti baginya.’’. Alan menjelaskan apa yang ia baca.’’Tapi di dalam pesan itu, ia terus menegaskan kita untuk tidak mengambil gambar atau merekam apapun’’. Ucapnya lagi.
‘’Kalau begitu kita ikuti kemauanya. Balik lagi juga telat, terlanjur penasaran sama lorong inikan’’. Sindir Mia.
‘’Liv, kita pulang aja yu..., aku bener-bener gak suka sama tempat ini...’’. Linda membujuk Olivia untuk kembali dan pulang. Ia benar-benar takut. Bahkan ia belum pernah merasa setakut ini.
‘’Haduh...kalo gak suka ngapain ikut segala. Repotin aja’’. Sindir Mia.
‘’Tapi Linda benar, aku juga merasa ada yang aneh dengan tempat ini’’
‘’Aduh kak Oliv...kalau dia mau pulang,biarin aja pulang sendiri’’
‘’Yaudah, aku pulang sendiri aja yah...’’
‘’Tunggu dulu, kita kesini bareng-bareng. Berarti harus kembali bareng-bareng’’. Ucap Raka tegas
‘’Tuh dengerin...’’. Ejek Mia
‘’Kamu gak usah takut, masalahnya kita semua udah terlanjur datang dan ingin tau apa yang ada di dalam sana’’. Raka menunjuk lorong di sapingnya menyakinkan Linda untuk tetap ikut.
‘’Tapikan...’’
‘’Kamu tenang aja, kita ada disini kok’’. Olivia juga membujuk Linda meskipun sebenarnya ia juga takut dan ingin pulang, karna kejanggalan membuatnya semakin ragu. Linda memandangi wajah teman-teman satu persatu. Lalu akhirnya ia yakin untuk terus ikut.
‘’Nah, tunggu apa lagi. Ayo buruan’’. Mereka pun mencari anting itu dengan bantuan cahaya dari senter. Mereka menuruni anak tangga. Menuju ruangan bawah tanah yang tersembunyi. Pencahayaan semakin minim. Hanya ada satu lampu redup setiap jarak lima meternya. Namun tiba-tiba semua lampu yang ada di lorong itu mati. Semuanya biasa saja kecuali Olivia dan Linda. Mereka berdua namapak sangat kaget, terutama Linda yang menahan rasa takut dari awal.
"Eh, kok lampunya mati sih!’’. Mia mengeluh sebal.
"Tenang, kan ada senter gak usah khawatir". Ucap Raka
‘’Apa kalian memikirkan hal yang sama?’’. Tanya Alan
‘’Apa?’’. Raka kembali bertanya.
‘’Sepertinya dulu ini adalah sebuah penginapan yang tersimpan di bawah tanah. Lihat ini, hiasan dinding dari kayu ini tertulis ‘24 september 1973’. Dan lagi, tempat ini cukup bersih. Lampunya masih bisa menyela meskipun redup, banyak sekali pintu dengan nomor dan nama yang berbeda’’. Jelas Alan yang menunjuk setiap objek yang janggal dengan senter yang ia genggam.
‘’Jadi maksudmu...’’. Olivia kembali angkat suara.
‘’Benar, pasti pihak kampus tau dan menutupi ini dari kita. Mereka pasti menemukan sesuatu, dan mereka sengaja membuat cerita seram agar tidak ada yang menemukan tempat ini’’.
‘’Wah, jadi kita murid pertama yang bisa nemuin dong...’’. Ucap Mia asal.
‘’Oh iya, aku ingat. Apa kalian ingat saat kita baru kenal?. Dulu Mia menanyakan padaku tentang peta tempat yang ada di papan mading fakultas seni’’. Olivia merasa jika peta itu sangat mirip dengan tempat ini.
‘’Iya, aku inget kak. Waktu itu petanya lusuh banget sampai aku nyasar. Tapi petanya lusuh gitu. Oh, ini bukan?’’. Mia menunjukkan foto di ponselnya. ‘’Waktu itu aku sempat fotoin, karna aku pikir itu peting’’. Ucapnya lagi.
‘’Ya pasti ada sesuatu, harta karun misalnya?’’. Ucap Raka asal bicara.
‘’Bisa jadi, karna ini lorong ini sangat tua, pasti ada harna yang disimpan disini’’. Alan membenarkan.
‘’Kita cari tau aja, mungkin orang asing yang main nyuruh-nyuruh itu datang kesini dan nemuin sesuatu. Tapi karna ketauan dia kabur dan antingnya jatuh. Bener gak?’’. Tanya Mia.
‘’Eh,kalian dengar tidak?’’. Tanya Alan.
"Apaan?’’. Jawab Raka
"Ada suara oranga nangis, kalian dengar?". Tanya Alan lagi.
"Aku denger,kayanya suara cewek deh". Ucap Mia
‘’Mana?, gue gak denger’’. Jawab Raka. "Udahlah, mungkin salah denger mending lihat peta ini, ada lebih dari 10 ruangan. Kita carinya mencar aja, gimana?". Tawar Raka.
"Gimana kalo gue ke pintu ini, Kak Oliv sama si penakut Linda ke sebelah kiri aja, Kak Raka sama Alan kalian mencar ke pintu kanan dan kiri disana. Niat kita sesini buat bantuan orang asing itu sama geledah tempat ini. Supaya kita tau ada apa aja di sini". Mia membagi tugas masing-masing.
"Ok ,lo harus ati-ati". Ucap Raka
"Ya, kita semua harus hati-hati". Ucap mia
Olivia menghampiri pintu bernomor 005.Ketika ia sudah memengang gagang pintu dan membukanya, Linda yang ada dibelaknnya menarik baju Olivia dengan wajah yang memucat. Di sertai keringat dingin yang terus keluar.
"Liv...kita pulang aja yah...aku ngerasa gak enak". Bujuk Linda
"Udah gak apa-apa , aku juga takut, aku juga ingin pulang. Tapi rasa penasaranku lebih besar, jadi kamu gak usah takut ok". Olivia meyakinkan kembali Linda yang ketakuttan.
"Tapi Liv...suasana nya beda banget".
"Udah...ayo". Olivia membuka pintu itu. Dan benar saja, ini adalah sebuah kamar. Bukannya berantakkan. Tapi tertata sangat rapi. Olivia masuk dan melihat lihat seisi ruangan itu. Linda hanya mengikutinya dari belakang. Nuansanya bercirikan jaman dulu. Ranjang, sprai, selimut khas jaman dulu. Hiasan dainding, meja rias, lemari berukuran sedang, dan lain sebagainya. Ruangan itu terurus rapi meskipun dindingannya sedikit berdebu.
"Lihat, tidak ada apa-apakan, jadi kamu tidak perlu takut". Ucap Olivia
"Tapi Liv...".Ucap Linda
"Sudah aku bilang tidak ada apa-apa, ayo kita keluar lagi, pasti mereka sudah menunggu kita-".
Blam!. Pintu tertutup tepat ketika mereka akan keluar dari sana. Mia, Alan dan Raka juga mendengar suara yang menggema itu. Mereka langsung kembali keluar dari ruangan yang mereka masuki. Olivia dan Linda membeku untuk beberapa saat. Berusaha mencerna apa yang barusan terjadi.
"Eh loh, kok pintunya ketutup’’. Olivia berusaha membuka pintu itu. Namun pintu itu tertutup rapat seolah terkunci dari luar.
"Apa?, gimana nih Liv. sekarang kita harus gimana...". Ucap Linda panik
"Guys, bukan dong...tolong kita". Olivia menggedor-gedor pintu agar teman-temannya dapat mendengar dan menolongnya.
‘’Ada apa?’’. Tanya Mia
"Eh ,itu suara Oliv?". Tanya Alan
"Guys, bukain pintunya dong...hei!".
"Kak Oliv…?".Tanya Mia
"Mia...tolong bukai pintunya, akuu sama Linda kekurung disini..."
"Iya, tolong bukain pintunya dong...". Ucap Linda lirih
"Iya kalian tunggu sebentar". Raka berusaha membuka pintunya. Namun gagal.
"Kayanya pintu ini kekunci deh".Ucapa Mia
"Kekunci gimana sih, udah gue sama Alan yang dobrak. Gimana Lan?". Tanya Raka
"Ya, ayo". Jawab Alan
Alan dan Raka sudah siap diposisi. Tepat ketika mereka melakukan aba-aba , tiba-tiba ada seseorang yang tertawa dengan keras dari arah mereka datang.
hihihihihihihihi...hihihihihihihhi...
"Tunggu, kayanya itu suara...". Ucap Mia dan mereka bertiga menengok kebelakang.
" Lari..!!". Ucap Raka
Sesosok perempuan mendekat dengan gaun putih compang camping tanpa kaki yang menyentuh tanah. Soso kitu mengikuti mereka bertiga yang lari.
"Guys, kalian kenapa...bukain dulu...guys!, hei!".Olivia berteriak, namun tak ada yang menyaut.
"Liv...apa yang terjadi sama mereka, aku takut Liv, aku mau pulang...". Linda masih panik, bahkan ia sampai menagis.
"Udah kita berdoa aja, supaya cepet ada yang bukain pintunya". Olivia tak bisa berpikir jernih. Linda malah menangis dan tidak bisa diajak kerja sama."Udah Lin, kamu tenang aku akan coba lagi buka pintunya, aku akan berusaha lagi". Ucap Olivia lagi.
Olivia berusah membuka pintunya, tapi ternyata pintu itu terbuka dengan mudah seolah tidak pernah terkunci.
" Loh, pintunya, pintunya...".Linda menunjuk pintu yang sudah terbuka.
"Aneh, bukannya tadi susah dibuka...yasudah sekarang kita keluar dulu dari sini, terus nyari..." Ucap Olivia sambil keluar dari sana, tampa ia tau bahwa ada yang menarik Linda dari belakang. Pintunya kembali tertutup dan tidak bisa dibuka.
"Loh, pintunya ketutup lagi...". Ucap Olivia heran.
‘’Liv, tolong...!,Oliv buka pintunya Liv...".Ucap Linda lirih
"Pintunya kekunci…". Olivia mengedor-gedor pintu.
"Oliv tolong…!. Aaaaaa!".Linda menjerit.
"Lin, Linda. Linda?, kamu jangan becanda ya, Lin...".
"Linda kamu dengar aku kan".Ucapnya lagi
Terdengar suara orang yang cengegesan. Dengan ragu Olivia menengok ke samping. Seorang Pria berjubah hitam berdiri di tangga. Olivia tidak tau siapa itu. Karena setengah dari wajahnya tertutup jubah. Pria tersenyemum seram pada Olivia.
"Si-siala kamu?". Tanya Olivia ragu.
"Siapa aku?. Menurutmu siapa?. Hmm seharunya kamu mendengarkan temanmu untuk pergi dari sini". Pria itu menuruni anak tangga satu persatu.
"Dari mana kamu. Oh, jadi kamu yang menyimpan gulungan dan yang kirim pesan itukan?". Olivia menaikkan nada suaranya.
"Yaps, kamu benar...tapi sayangnya kamu salah..."
"Apa?, beraninya kamu mempermainkan aku dan teman temanku. Dengar yah, becandamu itu sudah kelewattan. Lebih baik kamu cepat bukakan pintu ini atau...". Ucap Olivia marah
"Atau? Apa?. Apa yang akan kau lakukan...heh?, sebelum kau melakukan sesuatu padaku, aku akan membuatmu mati...hhahahahah...". Tawa pria itu menggema. Keadaan yang gelap membuatnya tak berhenti mengeluarkan keringat dingin. Olivia menelan ludah mendengar perkataan pria itu yang sepertinya tidak main-main. Jikapun main-main, untuk apa pria itu membawa kampak besar di tanangan kirinya.
"Sudak cukup basa basinya. Sekarang kau akan mati!". Ucap Pria itu sambil melangkah mendekat. Terpaksa ia lari meninggalkan Linda yang masih terkunci didalam. Olivia berhenti, ia bingung dengan jalan mana yang harus ia ambil dari ketiga jalan yang ada di depannya .Akhirnya indah memutuskan mengambil jalan tengah.
💀💀💀
Mia, Raka dan Alan berhenti setelah merasa tidak dikejar lagi."Gimana nih...kak Oliv sama si Linda kita tinggal, kalo ada apa-apa giman...". Ucap Mia khawatir.
"Udah gak usah mikir macem-macem, yang penting kita gak dikejar lagi sekarang".Ucap Alan
"Tunggu, sepertinya ada yang datang, kita harus sembunyi di ruangan itu".Ucap Raka
"Ayo". Ucap Mia
Olivia berlari sekencang mungkin, sampai ia merasa lelah dan memperlambat larinya. Didepannya ada beberapa pintu. Tak sempat memilih, karna terburu-buru ia membuka pintu dan bersembunyi di mana saja.
"Loh...kalian disini?". Tanya Olivia yang kaget ketika menutup pintu itu.
"Suttt, jangan berisik, kita sedang bersembunyi disini". Ucap Alan
"Kak Oliv, kenapa kakak sendiri, mana si Linda penakut itu?". Tanya Mia
"Ohya...tadi, pintu itu ternyata tidak terkunci, aku keluar dari sana tapi saat itu...". Olivia menjelaskan semuanya pada Mia ,Raka dan Alan.
"Tadi kamu bilang ada seorang pria berjubah hitam yang membawa kampak besarkan?". Tanya Alan.
‘’Ya, kira-kira pria itu seumuran dengan kita, dan...dia cukup tinggi".Ucap Olivia yang masih ngos-ngosan.
"Temen-temen, aku minta maaf karena ini semua gara-gara...". Mia menundukkan kepala penuh sesal.
"Gak, ini bukan salah lo, ini salah gue yang setuju banget karna bersih kukuh supaya kita semua setuju". Sela Raka
"Stop!,d rama adik kakanya nanti aja. Kita sekarang harus nyari cara supaya bisa menemukan Linda dan keluar dari sini". Ucap Olivia tegas
"Oliv benar, kita harus mencari cara supaya...aduh!". Terdengar suara Alan yang kesakittan.
"Alan kamu ken-napa?. Jadi ini pintu, aku kira inituh cuman hiasan dinding, ternyata ada ruangan tersembunyi lainnya". Kini Mia jadi bingung. Ada ruangan rahasia di dalam lorong rahasia. Olivia memasuki ruangan itu dengan penasaran. Gelap, lembab dan berdebu. Seperti itulah keadaan di dalam sana. Olivia berusaha mencari saklar dengan bantuan senter di ponselnya. Lampu menyala dan lebih terang dari lampu-lampu yang berjajar di lorong tadi.
"Guys, kayanya ada sesuatu disini, coba kalian kesini deh…". Ajak Olivia. Mia, Raka dan Alan menghampirinya.
"Disini berdebu banget, tempat apasih nih". Keluh Mia
"Guys, benar ternyata. Dulu ini sebuah penginapan. Tapi lebih tepatnya kaya asrama sih. Lihat foto ini". Ucap indah sambil memperlihatkan foto sebuah bangunan megah beserta para penghuni dan pekerjanya.
"Mungkin ini pemilik bangunan bangunan ini. Lihat ini". Alan menunjuk gambar perempuan cantik yang duduk di tengah-tengah. Perempuan itu memakai gaun puntih tersenyum bahagia. Hidung mancung dan kulit putih nampak seperti orang barat.
"Iya...itu pemilik bangunan ini, dan itu aku...hihihihihihi...". Ucap seseorang di belakang mereka.
Mereka semua kaget melihat sesosok perempuan bermata merah mebelalak disertai senyum menyeriangai. Rambutnya menjuntai kebawah. Bergaun putih lusuh compang camping dengan noda-noda seperti darah dan bau busuk yang menyengat.
" Aaaaa!!". Mereka semua lari kecuali Raka karna kakinya tersangkut dan tertinggal disana.
"Tunggu, kakak Raka...". Ucap Mia
"Mia,kita harus lari sekarang". Olivia menarik Mia dari sana.
"Tapi..."
"Nia,ayo...". Ajak Alan. Nia pun ikut berlari bersama Olivia dan Alan.
"Aaaa!, woi lepasin...heh?". Raka terlepas dan keluar dari sana. Namun, tepat ketika ia akan berlari mengejar adik dan teman-temannya. Seseorang memukul kepalanya dengan kayu hingga Andi terjatuh dan pingsan. Orang itu menyeret Andi kesebuah ruangan dan mengikatnya di kursi, lalu orang itu pergi.
💀💀💀
"Disini ada dua jalan, apa harus kita berpencar?". Tanya Olivia
‘’Tapi konsekuensinya...’’. Mia nampak khawatir.
"Iya, sepertinya kita harus berpencar.Tapi Mia, baik kamu pergi bersama Olivia, itu akan lebih baik.’’
"Tapi...kita kan gak tau jalan mana yang bener dan salah, jadi kenapa kita harus berpencar. Bukannya lebih baik kita bertiga terus bersama?". Tanya Mia
"Bukan seperti itu, tapi masalahnya kita harus berpencar untuk mencari petunjuk agar bisa segera keluar dari sini. Setidaknya salah satu dari kita dapat keluar dari sini dan meminta bantuan secepatnya"
"Jika seperti itu,baiklah aku dan Mia akan ke arah kanan".
"Aku akan kearah kiri, kalau begitu, kalian berdua hati-hati. Aku duluan". Alan melangkah pergi dari sana. Ia terus berjalan lalu mendengar suara langkah kaki mendekat. Iapun bersembunyi di belakang sebuah kursi tua di ujung tembok. Ia mengamati ada dua orang berjubah hitam melewati tempat itu.
"Martin,gimana?, ketemu gak?". Tanya seorang perempuan yang familiyar.
"Bukankah mereka semua menyedihkan?, tapi mereka gesit berlari,apalagi yang namanya indah itu. Tapi dia itu tampak sangat menyedihkan".Ucap pria itu
"Tapi kita harus cepat menghabisi mereka, karna sekarang sudah pukul satu malam, karna kalau tidak...". Ucap Pria itu lagi.
"Tenang saja Martin, mereka semua akan tamat malam ini juga". Sela wanita itu. Lalu mereka berlalu begitu saja.Karna merasa sudah aman Alanpun keluar dari persembunyiannya dan bermaksud kembali ketempat di mana ia berpisah dengan Mia dan Olivia.
"Aku harus segera mencari Nia dan Indah, aku harus membawa mereka semua pergi dari sini". Ucap Nino. Buk!. Tiba-tiba ada yang memukul kepalanya hingga pingsan lalu orang itu menyeretnya.
💀💀💀
https://www,flickr.com
"Aku juga merasa begitu, tapi setidaknya kita harus bisa sembunyi dulu".Ucap Olivia yang berjalan dengan tergesa-gesa. Menyusuri lorong yang entah akan mengarah kemana.
Dari jarak yang cukup dekat, orang berjubah hitam itu mengawasi, mencari kesempatan saat targetnya lengah. Ia membuat jaraknya semakin dekat dengan Mia yang tertinggal cukup jauh dari Olivia. Setelah waktu dan kesempatan memihak, saat itulah ia langsung menariknya. Menutup mulutnya dengan kain yang sudah di beri obat bius.
"Kak Oliv tunggu...kak!!!". Mia di tarik kebelakang. Refelek membuat Olivia menengok kebelakang. Mia menghilang. Tidak ada bersamanya.
"Mia, kamu kemana?. Mia!". Olivia panik, ia sendirian. Hanya gema yang menemaninya. Ia sudah tidak bisa lagi berpikir jernih. Pikirannya kacau, ia kehilang arah , entah kemana ia harus melangkah. Apa harus kembali atau terus melangkah ke depan .Tapi, dengan cepat ia memutuskan untuk kembali. Berusaha berpikir positif jika teman-temannya baik-baik saja.
Seorang wanita tersenyum, ia senangmelihat targetnya panik dan putus asa. Ia sudah tak sabar untuk segera mengakhiri semua malam ini. Ia keluar dari persembunyiannya, ia memukul Olivia yang sedang lengah. Buk!. Kayu itu melayang dua kali kearah kepalanya. Darah menetes dari kepala baigian belakang. Olivia merasakan ngilu dan pusing yang teramat sangat, matanya berkunang-kunang semakin buram. Meskipun tidak pingsan, Olivia tidak bisa merasakan apa-apa . Bahkan ia tidak sadar jika seseorang menggusur kakinya, menyeretnya ketempat asing. Ia di ikat di kursi tua yang sangat berdebu. Ikatan yang kuat membuat kulit Olivia sedikit memerah dan lecet. Tapi wanita itu semakin senang.
Alan tersadar, matanya melihat sekeliling. Ia melihat Raka disisinya, terikat dan belum sadar kan diri. Alan mencoba untuk membuka ikatan tali yang mengikatnya. Ikatan itu cukup kuat, membuatnya kesulitan untuk melepaskan diri. Kurang lebih 10 menit, akhirnya ia bisa lepas dari tali tambang yang mengikatnya. Ia berusaha membangunkan Raka yang masih pingsan, ia bermaksud untuk melepaskan Raka yang masih terikat. Tapi sepertinya ada seseorang yang datang dan ia segera bersembunyi di balik pintu. Seseorang masuk keruanga itu,nampaknya ia kaget melihat satu kursi yang kosong dan langsung kembali ke luar. Setelah orang itu keluar, Alan pun membukakan ikatan Raka dan mencoba menyadarkannya lagi.
💀💀💀
"Ini gawat!, satu orang kabur". Pria itu datang dengan wajah kesal
"Apa?!, apa kau bilang., sekarang cari, cari dia!. Aku yakin dia masih ada di sekitar sini, cepat!!". Wanita itu sangat marah saat ia tau ada orang yang kabur. Lalu pria itu pergi dengan kampang tajam di tangannya. Olivia mendengar semuanya, tapi ia masih belum bisa fokus. Ia berusaha untuk mengembalikan kesadarannya, ia mendapati seseorang berjubah hitam sedang berdiri membelakanginya. Ia tau siapa itu, pasti pria tadi. Tapi setelah ia perhatikan sepertinya bukan. Dari fisiknya sudah jelas bukan. Orang ini lebih pendek, jika dilihat dari belakang, ia seperti seorang perempuan.
‘’Perempuan...’’. Batinya. Matabta langsung melotot menyadari ada dua orang yang membuat skenario ini.
"Si-siapa kamu?, sebenarnya apa yang kamu inginkan dari kami!’’. Tanya Olivia.
"Hhahahahah!, lalu jika aku ingin kalian mati, bagaiman?". Wanita itu berbalik menatap Olivia dengan tajam.
"Hah, Linda. Linda apa yang kamu lakukan?, atau kamu ternyata...".
"Ya ya ya...semuanya benar, apa yang kau pikirkan semuanya benar, akulah yang sudah merencanakan semua ini". Jawabnya malas.
"Linda atas dasar alasan apa kamu melakukan ini semua?, padahal kita adalah teman, padahal tidak ada masalah apapun diantara kita semua!"
"Diam!, kau bilang tidak ada masalah apapun?. Aku membenci kalian semua, kalian sama saja.t Tapi aku paling membenci dia. Si Mia ini, dia selalu memojokkanku, bahkan dia memang sengaja melakukan itu, bangun kau!". Jelas Linda yang juga membangunkan Nia dengan cara menyiramnya dengan air dingin.
"A-Apa yang kau lakukan, oh jangan-jangan kau orang yang ngirim pesan itukan ?. Dasar, cewek munafiq, dari awal udah curigakan emang… dasar bebal! . Auu!". Mia mencibir Linda. Linda yang geram langsung menamparnya dengan keras.
"Diam kau, berani-beraninya ya, kau mengatakan itu padaku. Seharusnya kalian sadar bahwa kalian itu sangat kejam, terutama wanita bernama Mia ini, dia sangat naif dan brengsek!". Linda memukul dan menampat Mia beberapa kali. Memastikan agar ia tidak merendahkannya lagi.
"Sudah cukup!, hentikan semua ini. Kita bisa bicara baik-baik, yang kamu benar-benar sudah kelewattan….". Ucap Olivia lirih.
"Oh....ini sang pahlawan penolong nomber satu di kampus ini bahkan ketika ia masih di bangku smp dulu. Kau juga jahat diam! . Kau juga akan mati…., kalian semua kan mati malam ini!"
"Eh!, kemana kak Raka dan Alan. Apa yang kau lakukan pada mereka brengsek!. kemana mereka heh?!". Tanya Mia Marah
"Mereka ada di ruangan sebelah, kalian tenang aja karna ada satu orang yang lari diantara mereka berdua. kalian tenang saja, semoga orang itu keluar mencari bantuan menyelamatkan kalian dan tidak tertangkap oleh orang suruhanku. Tapi sepertinya sebelum dia mencari bantuan dan datang kesinipun...dia ataupun kalian pasti udah MATI deh...". Linda menekankan kata mati dengan nada mengejek.
"Linda kenapa kamu melakukan ini?". Tanya Olivia
"Oliv...Oliv, sepertinya kamu terlalu polos dan bertingkah sok menjadi pahlawan didepan banyak orang,tapi sebenarnya kamu itu lemah". Sindir Linda. Lalu ia menghampiri Olivia, ia mengcengkram dagu Olivia dengan sangat kuat sampai berwarna kemerahan. Olivia harus menahan sakit di dagu dan pipinya. "Oliv...kau itu tau atau pura-pura tidak tau sih, kamu lupa dengan apa yang kamu lakukan padaku saat smp dulu, heh?". Tanya Linda
"Waktu smp?, apa maksudmu?". Olivia bingung dengan apa yang dikatakan Linda.
"Kamu lupa, dengan seorang perempuan cupu yang kamu tolong?. Tapi ketika perempuan itu ingin memberi hadiah atas rasa terima kasihnya padamu, kau tidak peduli, kau menginjak dan membuang hadiah itu. Kau bahkan mendekati pria yang dia sukai, kau merebutnya!!!". Nada penuh amarah keluar dari mulutnya. Ia melemparkan sebuah kotak hadiah yang sudah sangat kusam yang sudah terinjak dan selembar foto seorang pria kehadapan Olivia.
"Jadi kamu...Melisa?’’. Tanyanya tak percaya. ‘’Hanya karna hal seperti itu kamu melakukan ini, mereka tidak ada hubungannya dengan masalah itu!".Tegas Olivia
"Diam!, kau bilang tidak ada hubungannya dengan mereka, mereka semuanya sama. Raka...sebenarnya aku sangat menyayangkan kalau dia harus mati malam ini, dia orang yang baik dan sangat tampan. Tapi aku tidak tau kenapa ia selalu menghindariku ,sampai akhirnya aku tau ternyata dia menyukai orang lain. Hatiku hancur dan aku rasa, tiada alasan lain selain membuatnya mati dan membalas rasa sakit ini...hhahahahahahhahah…!"
"Kakak Raka suka sama lo?. Karna dia tau bahwa lo itu cewek berhati iblis-"
Plak!. Linda menampar Mia dengan keras, sampa darah keluar dari hidungnya. Lalu Luna mengambil sebuah balok kayu yang cukup panjang.
"Sepertinya kau harus jadi orang pertama yang mati malam ini, sebelum kau mati, kau harus tau bahwa aku sangat membencimu, kau selalu memojokkanku,s elalu mempermalukanku dan mencibirku didepan banyak orang. Sekarang kau sudah tau kenapa kau harus mati, jadi matilah dengan tenang...hyaaa!!".
Bruk!. Raka mendorong Linda hingga terjatuh.
"Mia, Oliv, kalian gak papakan?".Tanya Raka sambil membuka ikattan adiknya dan Alan membukakan ikatatta Olivia.
"Kak Raka...Si Linda ini dalangnya". Ucap Mia sambil menunjuk Linda yang tak sadarkan diri.
"Kita harus buru-buru keluar dari sini, atau kita akan kenapa-napa". Ajak Olivia. Merekapun lari dan mencari jalan keluar. Linda tersadar, ia dibangunkan oleh Pria bernama Martin.
"Martin, kejar mereka cepet!"
"Baikalah".Ucapnya. Pria itu pergi mengejar Mia, Raka , Alan dan Olivia. Linda keluar dari ruangan itu dan ia kaget karna orang suruhannya yang menyamar jadi hantu itu ada disana membelakanginya.
"Kau, kenapa ada disini?, kenapa bajumu jadi sangat lusuh heh?, bukannnya tadi baju yang kau pakai itu warna putih bersih meskipun robek. Ya sudahlah, aku akan mengejar mereka". Ucap Linda yang kemudian tersandung sesuatu kemudian jatuh. "Sialan, apan nih. Loh, inikan...orang suruhanku. terus yang di belakangku itu...". Linda memberanikan diri untuk menengok kebelakang dan ada wanita berbaju compang camping itu sedang melayang-layang di belakangnya. Matanya merah melotot dengan seringai dan kulit membusuk menatapnya. Linda segera bangkit dan berlari, tapi ada yang menariknya dari belakang. Membuatnya melayang kemudian jatuh di tumpukan kaca. Tubuhnya mengeluarkan banyak darah . Tubuhnya melemah, ia tidak bisa merasakan tubunya dan iapun tak sadarkan diri.
Hihihihihihih...Hihihihihihih…
Sosok itu melayang-layang diatas tubuh Linda yang mengeluarkan bau amis yang menyengat.
💀💀💀
Mereka berempat lari dengan sekuat tenanga mereka hampir sampai di ujung lorong rahasia. Namun Martin berhasil menangkap Raka dan memukul kepalanya dengan kayu. Banyak darah yang keluar dari kepala Raka . Meskipun begitu, Raka masih bisa melawannya. Ia sengaja mengulur waktu agar Martin tidak dapat menyusul Mia, Alan dan Olivia. Pertarungan hebat terjadi, mereka saling pukul, namun karna Martin memegang senjata, lebih mudah membuat Raka tumbang hingga tidak sadarkan diri. Karena Raka sudah tidak berdaya, Martin meninggalkannya, ia mengejar Alan, Mia dan Olivia. Akhirnya Alan, Mia dan Olivia bisa keluar dari lorong itu dan mereka segera pergi dan berusaha membuka gerbang.
"Gawat gerbangnya di kunci!’’. Olivia panik karna tidak ada satpam yang berjaga.
"Kita naik aja, ayo". Ajak Mia
"Kalian naik saja dan cepat cari bantuan, aku akan mencari Raka dulu".Ucap Alan
"Tapi disana berbahaya".Ucap Olivia berusaha menahan Alan.
"Tidak,aku harus mencari Raka, kalian berdua cepat naiki gerbang ini". Alan tetap bersih kukuh.
"Hahahaha...jadi... kalian disini rupanya". Martin datang dengan cepat, membuat Mia dan Olivia semakin panik.
"Kak Martin..., jadi kak Martin juga bekerja sama dengan Linda?". Tanya Olivia tidak percaya jika itui ternyata Martin. Pantas saja ia nampak kenal dengan suaranya. Saat ia berusaha membuka pintu ruangan dimana Linda menghilang tadi.
"Hm, tenang saja aku akan membuat ini lebih mudah. Aku bekerja sama dengannya karna kalian semua sangat menyedihkan. Dan kalian akan segera mati". Ucapnya santai.
"Dengarkan Aku Mia,kalian cepatlah pergi, aku akan menghalanginya. Dan...aku tau jika ini bukanlah waktu yang tepat tapi...aku menyukaimu, jika terjadi sesuatu padaku, tolong maafkan aku karna aku baru bisa menyatakannya sekarang, maafkan aku". Ucap Alan serius.
"Tapi Lan, dia sangat berbahaya...". Nada khawatir keluar dari mulut mia yang biasanya masa bodoh. Ia merasa tak enak dan menyesal karna tidak menyeadari perasaan yang sebenarnya tumbuh di hatinya.
"Sudah cukup main drama romantisnya, jangan basa-basi lagi, aku akan segera membuat kalian tertidur untuk selamanya....Hahahahaha!". Ucap Martin dengan tawa seramnya.
"Sudah!, cepat kalian pergi!".Teriak Alan. Mia dan Oliviapun memanjat ke pagar. Martin mengejarnya, tetapi Alan berusaha menghalanginya.
"Lebih baik kau minggir!, dan jangan menjadi pahlawan kesiangan!,
atau kau juga akan mampus!". Ucap Martin mengancam
"Jangan sentuh mereka sedikitpun".Ucap Alan sambil menahan Martin
"Beraninya kau, rasakan ini hya..!".
Martin memukul kepala Nino dengan kampak yang ia bawa, tapi ia bertahan dan pertarungan terjadi diantara mereka berdua. Alan melihat kayu balok yang tergeletak di tanah, dengan gesit ia mengambilnya. Membuat garis pertahanan yang cukup kuat. Alan berhasil membuat kampang yang Martin pegang terlempar cukup jauh. Martin tidak punya pilihan selain melawan Alan dengan tangan kosong. Ia berhasil merebut balok kayu dari Alan. Martin balik memukulinya, Alan yang sudah tidak kuat lagi karna Martin terus memukul kepala dan punggungnya. Sampai akhirnya ia terjatuh akibat lukanya yang sangat parah. Martin akan mengejar Mia dan Olivia, tapi tangan Alan memengang kakinya.
"Kau masih belum mampus yah,rasakan ini!".Martin memukul kepala Nino sekali lagi dan Nino pun tak sadarkan diri.
"Huh,sial!. Mereka berhasil lolos.Aku harus segera memberi taukan ini pada Linda". Martinpun kembali ke lorong untuk menemui Linda.
"Linda!. Kemana dia, apa kabur duluan.".Ia terus mencari-cari Linda . "Haduh!, buat kaget saja. Wah..bukannya tadi kau pakai baju putih bersih. Ya sudah, mana si Linda?". Tanya Martin pada Wanita bergaun itu. Wanita itu tak bicara sedikitpun, ia hanya mengisyaratkan tangannya yang menunjuk-nunjuk ke sebuah ruangan. Martin masuk keruangan itu ,ia kaget melihat Linda yang bersimbah darah. Banyak sekali pecahan kaca yang menembus tubuhnya. Bau amis dimana-mana dan...
"Lin, kalau dia mati, siapa yang..."
Blam!!. Pintu ruangan itu tertutup begitu saja.Membuat martin kaget dan mengedor-gedor pintu itu. Bahakn ia mencoba untuk mendobraknya, tapi pintu itu tidak bisa dibuka.
"Woi!!,buka pintunya…!’. Martin berusaha membuka pintunya.
hihihihi….Seorang wanita tertawa seram diatas sebuah lemari.
"Hah, siapa kau?!".
Wanita itu tersenyum seram dan menatap Martin dengan sangat tajam. Tiba-tiba lampu padam dan menyala secara bergantian dengan cepat. Wanita itu mencekik Martin dan melemparnya ke lantai. Lemari yang sangat besar itu menimpanya hingga membuatnya tewas seketika.
💀💀💀
Minggu, 07:30 pagi.
“Telah ditemukan beberapa mayat di sebuah lorong kampus yang bernama Tecnology of future, untuk mengetahui lebih jelasnya tentang apa yang terjadi. Saya akan menanyakannya langsung pada seorang polisi yang ada di samping saya. Permisi pak, soleh Saya tau siapa namanya?".Tanya Reporter
‘’Nama Saya Rio surwanto". Jawab polisi itu.
"Baik, pak Rio. Sebenarnya apa yang terjadi disini, bisa anda jelaskan kronologinya, dan ada berapa kira-kira jumlah mayat yang sudah ditemukan,bisa dijelaskan". Tanya reposter berambut pendek itu.
"’Iya,pada pukul tiga pagi ada dua orang siswi yang melapor, bahwa ada orang yang ingin membunuh mereka dan mereka juga minta tolong supaya teman-temannya yang tertinggal di sekolah itu untuk diselamatkan. Setelah menenangkan dua siswi itu, kami dari pihak polisi menelPon orang tua mereka lalu barulah setelah itu delapan anggota dari kepolisian berangkat dan mengecek. Nah saya dapat laporan jika telah di temukan seorang siswa yang terluka sangat parah dan tim kami mulai menelusuri lagi ternyata masih ada mayat disana.Jadi mayat kami temukan itu sekitar tujuh orang yah kalou tidak salah".Jelas Polisi itu
"Nah lalu bagaimana keadaan mayat-mayat itu?, apakah sudah membusukkah atau tinggal tulang belulangkah?"
"Sebena,yang pertama kami temukan di dekat gerbang itu sekarang keadaannya koma dan saya juga mendapat kabar jika keadaannya juga sangat keritis. Sedangkan yang enam orang tewas. Satu orang sudah menjadi tengkorak, dua orang keadaannya sudah membusuk dan ketiga orang keadannya itu seperti yang baru meninggal.". Jelas polisi lagi.
"Lalu apakah...". Ucap reportor dalam Tv.
Mia dan Olivia menangis setelah menonton berita itu
"Kak Oliv, ini...". Mia memberikan sebuah sebuah kotak berukuran sedang pada Olivia.
"Ini apa?".Tanya Olivia
"Kakak Raka pernah bilang kalo dia kenapa-napa. Aku harus kasih ini ke kak Oliv’’. Olivia membuka kotak itu, didalamnya ada banyak fotonya bersama Raka dan disana ada sebuah buku catatannya yang bernama ‘Semua dan Oliv’. Olivia membuka buku itu dan ia mulai menangis setelah membaca semua tulisan yang Raka buat untuknya.
"Kakakku pernah biang, kalo sebenenernya dia suka sama kak Oliv. Seharusanya , hari ini kakak Raka nyatain perasaannya. Tapi...tapi...".Jelas Mia yag kemudian menangis.
"Raka...kenapa kamu harus pergi...". Olivia menangis sambil memeluk buku catatan milik Raka.
💀💀💀
(Foto: MichaelGaida/Pixabay)
"Dua tahun yang lalu, saat itu kita masih di semester akhirkan?, kita...".Ucap Mia dalam mobil.
"Dan semuana sudah berlalu, kini kita harus melupakanya, agar kita bisa membuka lembaran baru dan hidup dengan tenang". Ucap Alan.
"Iya sekarang kita sudah lulus dan menjalani hidup sebagai orang dewasa. Semuanya sudah berlalu, jadi biarkan berlalu’’. Olivia masih saja melamun.
💀💀💀
Sebagian dari kampus itu dirobohkan untuk di bangun kembali, terutama bagian lorong itu. Satu minggu kemudian Olivia datang ke kampusnya dulu, ia melihat ada banyak orang sedang bermain di aula. Lalu ia melihat wanita putih itu lagi. Olivia kaget. Bukan karna takut, tapi karna melihat sosoknya yang tidak menyeramkan. Kini ia benar-benar mirip dengan yang ada di foto saat itu. Wanita itu tersenyum ramah melihat Olivia sambil melambai-lambaikan tangannya. Lalu wanita bergaun putih itupun menghilang.
"Olivia. Terimakasih berkat kamu aku bisa pergi dengan tenang, selamat tinggal..". Olivia hanya mendengar suaranya saja. Lalu Olivia tersenyum karna sekarang ia merasa lega. Bebannya telah hilang dan hidupnya tenang tanpa bayang-bayang kejadian yang berlalu.
Tamat...
Tunggu cerita selanjunya yah...terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca cerita ini. Silahkan tinggalkan komentar...Saran dan masukkan sangat berarti. Sampai jumpa...cerita update setiap satu bulan. Terima kasih...😃😄😊




0 komentar